Suatu Hari Ketika Tersesat

Kemarin pagi,  aku mengamati peta besar yang tertempel di dinding rumahku, yess..! Lalu akupun bergegas menuju suatu tempat dimana seorang sepupuku yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu menginap sejak tiga hari yang lalu. Sebelumnya  via phone kami sudah saling berjanji untuk bertemu dan aku merencanakan untuk menemaninya berbelanja.

Sesampai di tempat itu kami berbincang sejenak dan selanjutnya aku menemaninya “berburu” something dan oleh-oleh.  Saking semangatnya kami sampai lupa bahwa kami sudah menyusuri hampir seluruh lantai gedung bertingkat tujuh itu. Kami beristirahat (isoma) sebentar untuk sholat, makan siang dan saling bercerita tentang banyak hal, nostalgia dan juga tentang kehidupan kami sekarang.

Setelah itu “perburuan ” masih berlanjut………..kanan kiri, kanan kiri, lurus,  satu dua tiga toko kami hampiri,  oo…oo… tanpa disadari waktu menjelang petang, dan kamipun harus segera kembali ke hotel…………yaahhh jalanan macet, kami terjebak, hampir satu jam kami berada di taksi dan pikiranku mulai campur aduk…

Aku ingat anak-anakku di rumah yang hampir 12 jam aku tinggalkan… pikiranku mulai tak menentu, setelah sholat maghrib di hotel, akupun bergegas pamit salam perpisahan karena sepupuku akan kembali lagi ke kotanya besok. Dengan langkah yang memburu , dalam pikiranku hanya satu, ” Aku harus cepat sampai di rumah”, kukenakan  jaket dan kupacu motorku menyusuri jalan raya. Hari semakin gelap, namun kota ini semakin padat dan ramai dengan lampu-lampu kendaraan yang menyilaukan mataku.

Hah, mengapa tak satupun sisi jalan yang kukenali….?, dalam ragu motor terus kupacu, sembari pikiranku kembali pada peta yang kuamati pagi tadi. Tapi sepertinya aku melalui jalan  yang salah artinya aku arus memutari jalan itu kembali, karena hampir semua jalan di kota ini bersifat satu arah. Aku memutuskan untuk berhenti dan bertanya pada pada tukang bakso yang ada di tepi jalan, setelah aku pahami aku mulai lagi melanjutkan perjalanan, hah aku salah lagi, aku berkali-kali berhenti dan bertanya pada orang-orang yang ada ….tapi aku salah lagi….tiba-tiba.. Prrraaaaaaaaak… aku melihat seseorang dan motornya terhempas di badan jalan, ah…. Aku jadi merinding…. Tentu si pengendara tak menginginkan hal itu terjadi padanya.

Lalu aku berhenti dan kembali bertanya pada si mamang yang jualan di pinggir jalan…” mang, kalo aku mau ke setiabudhi ambil jalan yang mana ya?… Si mamang menatapku sejenak seolah-olah heran ” Neng, sendirian..? Aduh neng itu jalan masih jauh sekali….?    Ya ampun, si mamang bikin jantungku jadi dag dig dug… memangnya aku berada di mana sekarang? Aku sudah keluar dari jalan biasa aku lalui….akhirnya  si mamang memberikan petunjuk bahwa aku harus menempuh jalan layang. Dengan perasaan berdebar kulanjutkan perjalanan.

Untung saja, mataku mulai menatap sisi-sisi jalan yang seolah-olah pernah kukenali, maklum aku adalah pendatang baru di kota ini, akhirnya aku terus menemukan tanda-tanda yang mengantarku sampai ke rumah, entah sudah berapa jam aku di jalan, rasa capekkupun jadi hilang, begitu aku sampai di depan rumah. Anak-anakku sudah menunggu, dengan teriakan-teriakan kecil kebiasaannya saat menyambut mamanya pulang. Alhamdulillah…..

Saturday, August 01, 2009

2 Comments

Filed under Short Story

2 responses to “Suatu Hari Ketika Tersesat

  1. Celala

    Cerita yang menarik Bu Guru…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s