SENYUMMU MEMBUAT HIDUPKU LEBIH INDAH

Pada mulanya aku tidak menyadari bahwa putriku yang kuberi nama Ashila Suandi, jarang sekali tersenyum. Hal ini baru kusadari ketika beberapa temanku yang datang mengunjungi kerap menyeletuk, “ Eh, koq, anaknya susah banget senyum yah, gak seperti mamanya”. Memang ketika Shila kecil, ia jarang tersenyum, kendatipun oranglain mengajaknya bermain dan bercanda, dia nyaris tanpa ekspresi dan  cenderung lebih mengamati orang-orang yang menatap dan menyapanya. Aku sih sempat grogi mendengar celetukan-celetukan yang bernada negatif seperti itu dan segera menampiknya, “Ah, namanya juga anak kecil, usianya masih enam bulan, dia belum mengerti, nanti kalo sudah besar pasti dia mau tersenyum”, ujarku mengibur diri.

Kemudian aku mulai memperhatikan tingkah laku putriku itu dengan cermat, ia adalah anak yang gesit dan berani, hal itu terbukti ketika berumur sepuluh bulan ia sudah bisa berjalan, aku dan suami sangat bangga akan keberaniannya melangkahkan kaki saat pertama kalinya. Saat itu aku sering memberikan stimulus dengan mengajaknya berbicara dengan senyuman. Aku berusaha untuk selalu tersenyum padanya dan saat itu ia mulai dapat memahami setiap raut yang ada pada wajahku. Terkadang aku sering mengambil kamera, memotretnya  dan membiasakan ia untuk tersenyum. Tatkala ulang tahun  pertamanya anakku itu sudah mulai terbiasa tersenyum. Alhamdulillah, kataku dalam hati semoga anakku akan menjadi anak yang ramah pada semua orang yang menyapanya.

Hal yang mengejutkanku adalah ketika ia mulai memasuki usia dua tahun, dan kata-katanya sudah mulai bijak, ia ternyata bisa mengkritisi setiap raut di wajahku. Dalam artian setiap kali aku tersenyum padanya dia merasa senang dan kembali tersenyum, namun ketika aku larut dengan pikiran yang terkadang tak menentu karena berbagai permasalahan yang kuhadapi sehari-hari, ia senantiasa membuatku terperangah dan tersadar saat kata-kata itu pasti terlontar dari bibir mungilnya “ Mama, koq gak senyum?” Kata-kata itu, begitu mengena dan membuat aku lupa akan berbagai rasa lelah yang menderaku seharian, ia selalu mengingatkanku untuk menghadapi  segala persoalan dengan hati yang tenang, dan menatap wajahnya yang lucu membuatku kembali tersenyum. Dia begitu cerdas membaca keadaan hatiku. Sejak itu aku dan Shila seolah telah menyepakati untuk saling mengingatkan bahwa kita harus selalu merasa tenang dan nyaman dengan tersenyum.   Shila….Ayo, senyum….nah begitu….seruku sambil memeluknya. Senyummu telah membuat hidupku menjadi lebih indah.

Leave a comment

Filed under Cerita Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s