Lima Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Ada terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda terhadap pendidikan dan praktek pendidikan yang terjadi selama ini. Pendapat-pendapat dari para pakar pendidikan itu dapat dikelompokkan dalam beberapa aliran, diantaranya terdapat lima aliran dalam Filsafat Pendidikan menurut Wahyuddin (2008) sebagai berikut:

1. Essensialisme

Aliran filsafat ini menunjukkan pendekatan pendidikan “tradisional” atau back to basic yang berupaya menanamkan pada peserta didik hal-hal yang esensial dari pengetahuan akademik dan perkembangan karakter peserta didik. Aliran ini dipopulerkan oleh William Bagley (1874-1946). Aliran ini didasarkan pada suatu filsafat konservatif di Amerika yang menerima struktur social, politik dan ekonomi dari masyarakat dan menuntut lebih banyak syarat pokok, hari sekolah yang lebih lama, tahun akademik yang lebih panjang serta buku-buku teks yang lebih menantang.

Lebih lanjut para esensialis memandang bahwa ruang-ruang kelas harus diorientasikan di sekitar guru, yang secara ideal bertindak sebagai model peran intelektual dan moral bagi para siswa. Para guru dan administrator pendidikan memutuskan apa yang paling penting untuk dipelajari oleh para siswa dan menempatkan sedikit penekanan pada minat siswa, dan guru esensialis sangat berfokus pada skor-skor tes pencapaian sebagai alat untuk mengevaluasi kemajuan peserta didik.

100_0803

2. Progresivisme

Gerakan progresivis merangsang sekolah-sekolah untuk memperluas kurikulum merek, menjadikan pendidikan lebih relevan dengan kebutuhan-kebutuhan dan minat para siswa . Aliran ini dipopulerkan oleh John Dewey (1859-1952), beliau memberikan penghargaan esarnya terhadap sains dan berpendapat bahwa satu kebenaran yang konstan tentang alam semesta adalah eksistensi perubahan, perubahan bukanlah suatu kekuatan yang tidak dapat dikendalikan, lebih tepatnya, perubahan dapat diarahkan oleh intelegensi manusia.

Pendidikan menurut Dewey adalah rekonstruksi pengalaman yaitu suatu kesempatan untuk menerapkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan cara-cara yang baru. Dengan bersandar pada metode ilmiah, di sekolah progesivis, para siswa didorong untuk berinteraksi satu sama lain dengan mengembangkan nilai-nilai luhur social seperti kerjasama dan toleransi dengan cara pandang yang berbeda, sehingga seorang guru tidak merasakan paksaan untuk memusatkan perhatian para siswa pada suatu disiplin ilmu tertentu dan para siswa boleh bertanggung jawab untuk mempelajari pelajaran-pelajaran yang menggabungkan beberapa bidang studi (subyek) yang berbeda.

3. Perenialisme

Aliran ini dipopulerkan oleh Plato dan Aristoteles, perennial berarti “abadi”. Menurut para perenialis, saat para siswa larut dalam studi tentang gagasan-gagasan yang besar dan abadi, mereka akan mengapresiasi belajar untuk belajar itu sendiri dan menjadi kaum intelektual sejati. Seperti halnya essensialisme, perennialisme hanya menerima sedikit fleksibelitas dalam kurikulum, mereka mendukung suatu kurikulum yang universal berdasarkan pandangan bahwa semua manusia memiliki “nature” (fitrah, sifat, karakter)esensial yang sama. Tidak seperti essensialisme, perennialisme tidak berakar pada suatu waktu atau tempat tertentu, kaum perennialis berupaya membantu para siswa menemukan gagasan-gagasan yang paling berwawasan dan abadi dalam memahami kondisi-kondisi manusiawi, menurut mereka pengetahuan tumbuh terutama dari temuan-temuan empiris para ilmuwan, merendahkan nilai penting kapasitas kita untuk bernalar sebagi individu-individu, yaitu untuk berpikir secara dalam, analitis, fleksibel dan imajinatif.

Praktek Pendidikan di Sekolah

Prinsip pertama aliran ini adalah ” man is nothing but what he makes of himself ” (manusia adalah apa yang dia upayakan atas dirinya), dipopulerkan oleh Soren Kierkegaard (1813-1855) dan Frederich Nietzsche (1811-1900), mereka sama-sama menjunjung tinggi individualisme, khususnya mereka berpandangan bahwa pendekatan-pendekatan filsafat tradisional tidak cukup menghargai pertimbangan ilmiah dari tiap-tiap individu.

Di dalam ruang kelas eksistensialisme, mata pelajaran berada pada tempat kedua untuk membantu para siswa memahami dan mengapresiasi diri mereka sendiri sebagai individu-individu yang unik yang menerima tanggung jawab sepenuhnya atas pikiran-pikiran, perasaan dan tindakan mereka sendiri. Peran guru adalah membantu siswa-siswa untuk menentukan esensi mereka sendiri dengan menghadapkan mereka pada berbagai jalur yang dapat mereka ambil dalam kehidupan dan menciptakan lingkungan dimana mereka dapat bebas menentukan cara yang lebih mereka pilih.

5. Behaviorisme

Dipopulerkan oleh Ivan Pavlov(1848-1936), John Watson (1878-1958) dan B.F. Skinner (1904-1989). Behviorisme menegaskan bahwa satu-satunya realitas adalah dunia fisik yang kita kenali melalui observasi ilmiah yang dilakukan dengan seksama

3 Comments

Filed under Dunia Pendidikan

3 responses to “Lima Aliran dalam Filsafat Pendidikan

  1. wardis

    informasi bermanfaat untuk memahami pendidikan

  2. Suatu tulisan yang baik diketahui oleh para praktisi pendidikan juga teman-teman yang sedang ambil matkul Filsafat Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s